TUGAS KELOPOK 1 ILMU BUDAYA DASAR

TUGAS KELOMPOK SOFTSKILL

“KEKERASAN DALAM KEBUDAYAAN INDONESIA PASCA REFORMASI”

 

 LogoGunadarma

Disusun oleh:

Albinus   1A1.13.051

Cahyo Trisnanto  1A1.13.167

Chandra Irawan  1A1.13.064

Jefrinda Husniadhy 1A1.13.017

Lodewijk Justianus 1A1.13.180

Kelas : 4KA39

JURUSAN SISTEM INFORMASI

FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI

UNIVERSITAS GUNADARMA

2014

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya saya bisa menyelesaikan makalah dengan judul “Kekerasan Dalam Kebudayaan Indonesia Pasca Reformasi”.

Makalah ini di ajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar di kelas 4KA39.

Saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah menbantu, sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi Mahasiswa, dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

 

 

Bekasi,    April 2014

 

 

 

Penulis

 

 1. PEDAHULUAN

 

 

1.1  Latar Belakang

Pada saat ini bayak budaya Indonesia yang berubah, di karenakan remaja saat ini lebih memilih budaya barat ketimbang budaya sendiri. Banyak faktor yang menyebabkan budaya lokal dilupakan remaja sekarang  misalnya masuknya budaya asing. Masuknya budaya asing ke suatu negara sebenarnya merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa. Namun pada kenyataannya budaya asing mulai mendominasi sehingga budaya lokal mulai dilupakan.

Faktor lain yang menjadi masalah adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya peranan budaya lokal. Budaya lokal adalah identitas bangsa. Sebagai identitas bangsa, budaya lokal harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya agar tidak dapat diakui oleh negara lain. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan budaya asing masuk asalkan sesuai dengan kepribadian negara karena suatu negara juga membutuhkan input-input dari negara lain yang akan berpengaruh terhadap perkembangan di negaranya.

 

 

   2. LANDASAN TORI

 

2.1 Definisi Perubahan Budaya

Perubahan budaya merupakan proses pergeseran, pengurangan, penambahan, dan perkembangan unsur-unsur kebudayaan. Proses itu terjadi karena interaksi antarwarga pendukung kebudayaan lain dengan penciptaan unsur-unsur kebudayaan baru dan penyesuaian antarunsur kebudayaan tersebut. Secara sederhana, perubahan budaya merupakan perubahan yang terjadi akibat benturan-benturan antarunsur budaya yang berbeda-beda. Perubahan budaya lokal tidak dapat dielakkan, namun kita dapat mengarahkan perubahan tersebut. Corak budaya global yang negatif kita hilangkan, namun yang positif kita ambil.

Budaya luar yang baik untuk kita adopsi adalah budaya yang memerdekakan dan membebaskan manusia. Menurut Immanuel Kant, ada dua unsur yang penting dalam manusia merdeka. Pertama, digunakannya akal budi sebagai satu bagian manusia- nalar yang mampu memecahkan persoalan-persoalan ethis tanpa sama sekali mengacu kepada wujud yang ilahiat. Kedua, ’publik’ sebagai arena. Bagi Kant, ukuran manusia yang dewasa, merdeka, adalah ketika ia mempergunakan nalarnya di arena publik tersebut. Untuk bisa mencapai ke arah sana, dibutuhkan kemandirian yang bertanggungjawab serta disiplin. Dan nalar menunjukkan bagaimana cara efektif dan efisien untuk melakukan perubahan tersebut.

Perubahan budaya dapat terjadi cepat (revolusi) atau lambat (evolusi). Perubahan budaya secara revolusi dapat terjadi karena direncanakan dan secara kasar. Contohnya pada saat penjajahan  Jepang dahulu, bangsa Indonesia harus mengikuti nilai-nilai yang dianut bangsa Jepang seperti menghormati Dewa Matahari pada pagi hari. Sedangkan perubahan secara evolusi terjadi melalui perubahan kecil yang berkesinambungan tanpa ada rencana sebelumnya. Contohnya perubahan yang terjadi karena keadaan dan kondisi baru yang membuat banyak wanita di daerah Jawa tidak lagi mengenakan kebaya melainkan rok atau celana panjang karena lebih praktis.

Faktor-faktor utama penyebab perubahan budaya dalam suatu masyarakat:

  • Inovasi

Proses perubahan untuk menuju sesuatu yang baru. Perubahan ini dipengaruhi karena kemajuan teknologi dan ekonomi. Perubahan budaya ini terjadi karena kesadaran masyarakat terhadap kekurangan-kekurangan yang ada dalam kebudayaan mereka sehingga mereka berusaha mengatasi kekurangan-kekurangan tersebut. Mereka disebut penemu dan penemuan baru mereka sangat terkait erat dengan kemajuan teknologi yang berupa discovery atau invention.

Tiga hal yang dapat mempercepat Inovasi:

Ketidakpuasan seseorang terhadap sesuatu yang telah ada

Adanya keinginan untuk berprestasi

Adanya orang yang menyimpang (Devian). Ada devian yang bersifat membangun (Devian Konstruktif) dan ada pula devian yang bersifat merusak (Devian Destruktif).

  • Discovery

Suatu penemuan baru terhadap benda-benda kebudayaan. Discovery dapat menjadi invention apabila hasil discovery itu diakui, diterima dan diterapkan oleh masyarakat tetapi membutuhkan waktu yang panjang dan harus melalui rangkaian penciptaan-penciptaan.

  • Invention

Suatu penemuan baru yang dapat mempengaruhi berbagai kehidupan masyarakat seperti dalam bidang sosial, politik, pendidikan, agama dan budaya, penemuan ini merupakan puncak dari inovasi dan discovery.

 

Faktor-faktor pendukung dan penghambat perubahan budaya

  1. Faktor Pendukung
  2. Faktor Internal (faktor pendukung dari dalam masyarakat)

Suatu perubahan dirasakan oleh masyarakat yang bersangkutan, tetapi tidak ada kontak dengan orang luar sehingga perubahan dimulai dari dalam.

  1. Adanya rasa tidak puas terhadap nilai-nilai yang berlaku

Seiring dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat membuat masyarakat mengalami perubahan. Nilai-nilai yang ada di masyakat pun ikut berubah demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Kemudian, masyarakat pun mencari sesuatu yang lebih sesuai dengan zamannya.

  1. Adanya penyimpangan terhadap sistem atau nilai-nilai yang berlaku

Penyimpangan biasanya dilakukan karena masyarakat menganggap nilai-nilai yang diwariskan generasi tua tidak sesuai dengan nilai-nilai generasi muda sekarang (ketinggalan zaman).

  1. Adanya penemuan baru yang diterima oleh masyarakat

Penemuan-penemuan baru membawa dampak begitu besar terhadap kehidupan masyarakat karena penyebaran ilmu pengetahuan semakin luas,  membuat segala macam kebutuhan menjadi lebih cepat dan mudah, dsb.

  1. Adanya perubahan dalam jumlah penduduk dan kondisi sosial.

Pesatnya pertumbuhan penduduk dan banyaknya pengangguran membuat orang-orang menciptakn alat kontrasepsi dan menciptakan lapangan kerja seperti pabrik industri kecil.

  1. Faktor Eksternal

Perubahan yang terjadi di luar kehendak manusia dan secara alami

1.  Bencana alam

2.  Peperangan

3.  Interaksi dengan masyarakat lain

 

  1. Faktor Penghambat
  2. Kurangnya interaksi dengan masyarakat lain
  3. Perkembangan IPTEK yang terlambat
  4. Terlalu mengagungkan tradisi
  5. Prasangka buruk terhadap kebudayaan luar

 

Akibat-akibat yang ditimbulkan perubahan budaya:

Seperti yang dijelaskan diatas salah satu faktor pendukung eksternal perubahan budaya adalah interaksi dengan masyarakat lain. Masyarakat satu dengan masyarakat lain saling memberi dan mempengaruhi budaya satu sama lain. Kebudayaan itu ada yang masuk secara damai (Penetration pasifique) seperti masuknya pengaruh budaya Hindu dan Buddha dan ada pula yang masuk dengan cara paksa atau kekerasan (Penetration violence) seperti pengaruh budaya Belanda dan Jepang pada masa penjajahan.

Pengaruh budaya yang dilakukan secara damai akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut:

  1.    Akulturasi

Perpaduan dua kebudayaan yang menghasilkan suatu kebudayaan baru dan tidak menghilangkan unsur-unsur asli budaya yang telah ada. Contohnya perpaduan buadaya Indonesia dengan budaya agama Buddha yang menghasilkan Candi Borobudur.

  1.    Asimilasi

Perpaduan dua buah budaya yang menghasilkan satu budaya baru dan budaya asli berangsur-angsur menghilang karena telah digantikan dengan budaya baru. Contohnya pengaruh budaya bercocok tanam tradisional dengan budaya bercocok tanam modern. Masyarakat dari budaya bercocok tanam tradisional akan berangsur-angsur meninggalkan budaya bercocok tanam mereka dengan budaya bercocok tanam modern yang lebih praktis dan hasil yang maksimal.

  1. Sintetis

Perpaduan dua kebudayaan yang menghasilkan kebudayaan baru yang berbeda dari dua kebudayaan sebelumnya. Contohnya pertemuan musik blues (yang berasal dari budaya orang Afrika-Amerika Serikat) dengan musik country (yang berasal dari kebudayaan kulit putih Amerika) yang menghasilkan jenis musik baru; rock and roll yang berbeda dari dua jenis musik sebelumnya.

 

  3. PEMBAHASAN

 

3.1 Kekerasan dan militer Dalam Budaya Bangsa Indonesia

Kekerasan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia sebenarnya adalah produk dari budaya kekerasan yang tumbuh dan berkembang sejak jaman dahulu. Akhir – akhir ini dalam masyarakat Indonesia sering kita lihat segala bentuk tindakan – tindakan anarkis yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kerusuhan Monas yang terjadi pada tanggal 1 Juni 2008 kemarin adalah salah satu bentuk tindakan tersebut. Penyerangan yang dilakukan oknum organisasi masa tertentu terhadap sekelompok aliansi yang berdemo di sekitar monas adalah salah satu bentuk tindakan kekerasan dan anarkis yang terjadi. Tindakan – tindakan semacam ini sebenarnya tidak hanya sekali ini terjadi. Peristiwa reformasi mei 1998 dapat dikatakan muncul dan kemudian berkembangnya budaya kekerasan dalam struktur kebudayaan masyarakat Indonesia.

Peristiwa kekerasan yang terjadi di Indonesia adalah produk dari sejarah bangsa Indonesia yang terdidik dalam sebuah budaya militerisme. Pemikiran di atas menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia menganut budaya kekerasan sejak republik ini berdiri. Mungkin bisa kita ingat perjalanan bangsa Indonesia merengkuh kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. kemerdekaan bangsa ini diperoleh dari upaya – upaya fisik melawan belanda. Fakta – fakta sejarah mengungkapkan bahwa perlawanan fisik sangat berperan aktif dalam upaya bangsa Indonesia merebut kemerdekaan. Memang hal ini sangat dimaklumi karena mengingat situasi dan kondisi yang berkembang pada saat itu, namun celakanya, setelah Indonesia berdiri, budaya– budaya seperti ini tetap dilestarikan dan terus dikembangkan oleh pemimpin – pemimpin bangsa. Mulai dari presiden pertama republik Indonesia, Soekarno, dapat kita lihat perannya dalam pembentukan budaya kekerasan ini. Soekarno merupakan pemimpin besar revolusi dan panglima tertinggi dalam tubuh angkatan bersenjata yang dulu masih disebut ABRI. Militer sangat berperan dalam pembentukan dan pemutusan kebijakan Negara pada saat itu. Penumpasan perlawanan – perlawanan di beberapa wilayah lebih ditekankan dengan upaya militer. Selanjutnya Soeharto, dalam kepemimpinannya mungkin dapat kita katakan sebagai awal ideology ini berkembang. Soeharto sangat menggunakan kepemimpinan keras dan militeristik. Hal ini terbukti dengan munculnya konsepsi dwi fungsi ABRI yang disetuskan oleh A.H. Nasution yang kemudian diimplementasikan oleh Soeharto dalam system kepemimpinannya. Dalam orde baru hanya ada dua kata, yaitu Soeharto dan ABRI. Semua hal yang menentang pemerintahan pada masa itu akan dilenyapkan dan dihancurkan yang dituduh sebagai penentang pemerintah. Peristiwa reformasi 1998 menjadikan akhir dari rezim ini berdiri, namun bukanlah akhir dari budaya kekerasan yang sudah mendarah daging dalam tubuh masyarakat Indonesia. Peristiwa itu juga diwarnai dengan aksi – aksi kekerasan yang dilakukan antara mahasiswa dan masyarakat melawan pemerintah yang dalam hal ini dapat dikatakan polisi dan militer. Peristiwa semacam ini kemudian dapat kita lihat sampai sekarang seperti yang akhir – akhir ini terjadi adalah bentrok antara aparat kepolisian dan mahasiswa UNAS dan peristiwa penyerangan oknum – oknum ormas tertentu terhadap sekelompok aliansi yang sedang berdemo di sekitar monas. Dalam satu sisi, upaya – upaya militer memang diperlukan untuk mengatasi hal ini, namun pemerintah tidak melihat akibat dari semua ini. Budaya kekerasan timbul dan berkembang di masyarakat akibat dari system pemerintahan yang mengacu pada militeristik.

Berdasarkan beberapa fakta yang diungkapkan diatas, dapat disimpulkan bahwa kekerasan seperti ini tidak hanya terjadi pada masa sekarang, namun sudah terjadi jauh – jauh hari ketika bangsa ini masih bayi. Mungkin bisa dikatakan pemerintahan Soekarno adalah pencetus dari hal ini, namun kesalahan dapat kita limpahkan kepada seluruh warga Indonesia karena terus memproduksi budaya – budaya kekerasan ini. Sudah saatnya pemerintah dan warga Indonesia menghapus budaya – budaya seperti ini. Pemberantasan korupsi dan pembenahan struktur birokrasi memang harus dilakukan, namun jangan melupakan hal – hal tentang kebudayaan yang bersifat negative. Reformasi selayaknya dipahami secara luas, tidak dengan adu jotos, saling lempar batu dan debat kusir. Reformasi harus lebih dipahami dengan perombakan kembali sytem kebudayaan yang terdapat di masyarakat Indonesia. Pembelajaran tentang hakekat kebudayaan yang luhur yang dimiliki oleh bangsa Indonesia harus lebih ditingkatkan, khususnya untuk konsumsi generasi – generasi penerus bangsa. Bagaimana kita bisa menghasilkan generasi – generasi penerus yang berkualitas jika generasi yang ada sekarang masih memproduksi budaya – budaya semacam itu? Sangat mungkin jika generasi penerus bangsa akan melakukan tindakan – tindakan anarkis dan kekerasan karena memang budaya semacam ini masih terus diproduksi oleh masyarakat Indonesia. Generasi muda kita sudah selayaknya diberi pemahaman yang lebih baik mengenai arti nasionalisme untuk bangsa agar kejadian – kejadian kekerasan dapat dihapuskan di seluruh wilayah Indonesia.

 

  4. KESIMPULAN

 

4.1 Kesimpulan

Budaya kekerasan antaragama dan antaretnis akan terus berkembang jika praduga negatif masih ada, atau bahkan masih terus dibangun oleh oknum tertentu. Franz-Magnis Suseno dalam tulisannya menyatakan bahwa sebagai sebuah bangsa, Indonesia diharapkan dapat menjalankan empat hal yang dapat mengurangi iklim umum dari kekerasan dalam masyarakat: supremasi hukum, desentralisasi kekuasaan politik dan ekonomi di Indonesia secara teratur dan dengan cara yang terorganisasi dengan baik, mengusahakan masyarakat yang demokratis, serta yang paling mendasar adalah membangun ekonomi Indonesia sehingga masyarakat luas merasakan segala sesuatunya dengan adil. saya sangat setuju terhadap diletakkannya toleransi dan kejujuran sebagai titik tolak keempat hal di atas. Toleransi berawal dari cara berpikir yang terbuka, sehingga menyebabkan masyarakat merasa mudah dan rileks hidup bersama dengan orang-orang yang mempunyai budaya atau orientasi agama yang berbeda. Untuk membangunnya, masyarakat harus kembali ke akar agama masing-masing untuk mencari dasar-dasar normatif toleransi. Selanjutnya, toleransi dapat membantu tokoh-tokoh agama dalam melakukan dialog mengenai ajaran sebagian besar agama, membuktikan bahwa toleransi beragama merupakan tuntutan agama mereka masing-masing, dan membantu peningkatan sosial. Agama adalah institusi yang berperan penting dalam kehidupan seorang individu. Agama sebagai kekuatan pemersatu masyarakat, seperti yang dinyatakan Emile Durkheim, penulis harapkan dapat menjadi langkah awal dari usaha menghindari kekerasan karena tujuan utama agama adalah bukan sekadar dengan Tuhan, tetapi juga untuk membantu mengembangkan rasa paguyuban atau sense of community. Jika rasa itu sudah berhasil dibangun dalam masyarakat tradisional, maka masyarakat post-traditional pun memiliki kesempatan berhasil yang sama. Di samping toleransi, masyarakat yang telah biasa melihat kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam cara bekerja pemerintah, supremasi hukum akan berjalan dengan baik karena masyarakat percaya kepada niat dan kemampuan pemerintah untuk melaksanakan hukum.

 

 DAFTAR PUSTAKA

 

[1] http://azaleeya.blogspot.com/2011/11/makalah-perubahan-budaya.html

[2] http://42stinkerz.multiply.com

[3] http://d3wihandayani.wordpress.com/2012/06/11/kekerasan-dan-militer-dalam-budaya-bangsa-indonesia-tugas-3-ibd/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: